Thursday, June 18, 2015

Mendamba Daycare ala Jepang

Galau..
Hari gini kok masih galau? Lha iya, dapat surat pemberitahuan dari daycarenya Nabiel, bahwa selama bulan puasa ini, daycare hanya buka dari jam 7-12. Duh.. emangnya kantor Nyak Babe-nya ikut-ikutan masuk setengah hari kerja??
Dititipin eyangnya? Tiap hari? Emang eyangnya nggak ada kesibukan lain?
Pas galau-galau sedap begini, Mbakyu Puranti Wiji Rahayu ngirimin tulisan pengalamannya di Jepang, tentang hoikuen alias penitipan anak.
Alhasil sekarang MamaNyu nggak cuma galau, tapi juga mupeng!
***
Anak senang, Mama tenang
Sedikit cerita ya soal penitipan anak di Jepun

Ada 3 jenis penitipan anak (hoikuen) utk anak usia pra-SD di Jepang;
1) hoikuen negri/pemerintah;
2) swasta dg subsidi pemerintah dan
3) swasta full
Hoikuen diperuntukkan utk anak2 yg kedua orangtuanya bekerja (sekolah jg boleh) terutama IBU.
Pada umumnya wanita Jepang tidak bekerja di luar rumah (eks. Kantoran) setelah menikah atau punya anak. Hal ini sesuai dg tradisi dan jg anjuran pemerintah Jepang agar ibu2 mengasuh anaknya sendiri. Tau gak, konsekuensi dr anjuran pemerintah ini, maka gaji pns jepun ditransfer langsung ke rekening istri masing2 :) :) :)

Mereka (ibu2) yg (terpaksa) bekerja mencari nafkah pada umumnya adalah yg dari kalangan menengah ke bawah shg gaji suami saja tidak cukup utk memenuhi kebutuhan se-hari2. Dengan asumsi inilah maka pemerintah Jepang mengutamakan ibu2 yg terpaksa bekerja ini dg menyediakan tempat pengasuhan yg layak bagi anak2 dr ibu pekerja. Filosofinya: anak2 yg diasuh dg baik (terawat) akan membuat orangtua-nya tenang dlm bekerja. Dan hasilnya tentu saja pekerja yg lebih produktif dan kinerjanya baik.

Untuk mendapatkan tempat pengasuhan anak di hoikuen tidak mudah, bagaimanapun anggaran pemerintah terbatas, terutama utk hoikuen no.1 dan 2.
Pertama orangtua harus mendaftar di city hall (biasanya satu semester sebelumnya) di web city hall diunggah informasi lengkap mengenai "kursi" hoikuen yg tersedia, misalnya Hoikuen A punya lowongan 5 "kursi" utk anak usia 4 tahun, Hoikuen B punya lowongan 3 "kursi" utk anak umur 2 tahun dst. Oya, masing2 hoikuen pada umumnya menyediakan kelas utk anak umur 0-5tahun. Semakin kecil kelas umur, semakin sedikit lowongannya. Asumsinya, 15 anak umur 5 tahun mungkin dpt diasuh 1 guru sendiri, tapi satu anak umur 2 bulan perlu ditangani 1 guru sendiri.

Saat mendaftar, orangtua perlu mengisi berkas2 yg banyaknya bisa setebal dokumen pengadaan disini. Contoh bbrp hal yg ditanyakan dlm berkas pendaftaran hoikuen, misalnya:
1) Apakah ayah dan ibu bekerja atau ayah saja atau ibu saja; (Ayah bekerja dianggap biasa/tidak diprioritaskan utk diterima, ibu bekerja, lanjuuut...)
2) Apakah ibu bekerja atau tinggal dirumah; jika bekerja maka harus melampirkan jadwal bekerja yg distempel kepala perusahaan. Aku waktu itu jg harus melampirkan jadwal yg distempel sensei yg intinya menunjukkan bahwa dg jadwalku itu tidak memungkinkan mengasuh anak sendiri, untungnya sekolah jg dihitung bekerja, hehe...
3) Jika ibu tinggal di rumah, apakah sehat/mampu mengasuh anak atau tidak; ibu yg sakit berat (misal stroke) yg tidak mampu mengasuh anak mendapat prioritas;
4) Bagi ibu yg tinggal dirumah dan sehat, apakah punya lebih dr satu balita yg harus diasuh bersamaan atau tidak, jika iya boleh mendaftar, jika tidak maka tidak boleh;
Ibu yg tinggal di rumah dan sehat dan tidak punya 2 atau lebih balita yg harus diasuh bersamaan, tidak boleh mendaftarkan anaknya ke hoikuen, tapi harus ke youchien (TK biasa, pulang jam 12 atau jam 1 siang 😀)
5) Apakah masih ada kakek atau nenek di dekat rumah yg bisa membantu mengasuh anak; jika ada maka prioritas berkurang; jika tidak ada maka lanjuuut...
Seingatku bbrp pertanyaan jg menyangkut perkembangan anak dr lahir; perkembangan ukuran tubuh, perkembangan lain2...
Dst....

Orangtua biasanya diijinkan memilih 3 hoikuen pilihannya, bisa berdasarkan jarak dr rumah atau peluang diterima. Prioritas untuk diterima dibuat berdasarkan jawaban dr daftar pertanyaan2 dlm berkas yg diisi. Jika sudah diterima biasanya anak mesti menjalani tes kesehatan, bukan berarti yg tidak sehat tidak diterima, tapi justru mau diberi fasilitas khusus yg diperlukan sesuai kondisi kesehatannya/kebutuhan khususnya. Oya, imunisasi jg kudu komplet! Jd buat teman2 yg berencana sekolah ke Jepang bawa anak, KMS-nya jangan sampe ilang yaa karena diperlukan jg buat syarat pendaftaran. Belum lagi nanti ditambah imunisasi khusus yg hrs dilakoni utk bbrp penyakit endemik Jepang, misalnya imunisasi utk radang otak Jepang.
Buat anti vaksin, hmmm...

Jika masuk hoikuen pemerintah biayanya gratis, full. Utk hoikuen yg disubsidi pemerintah tergantung penghasilan orangtua. Anakku yg sulung masuk hoikuen swasta yg disubsidi pemerintah, karena beasiswa tdk dihitung sbg penghasilan (yg layak :p), maka hoikuen nya gratis tisss...hehehe...

Jam pengasuhan rata2 mulai jam 8 pagi (bisa datang sblm jam 8) sampai jam 6 sore (anak boleh dijemput sebelum jam 6 sore). Setelah jam 6 sore masih bisa menitipkan anak tapi kena charge. Ini sih pas banget, aku biasanya jemput anak jam setengah 5 sore, pas kerjaan dilab selesai. Baru nitip sampe kena charge kalo ada keperluan mendesak saja.

Jika orangtua/ibu bekerja pd hari sabtu, maka anak juga bisa dititipkan di hoikuen pd hari sabtu (minggu tetep libur). Hoikuen tetap buka pd musim liburan seperti liburan musim panas, meski sekolah2 biasa libur. Pokoknya hoikuen baru libur saat rata2 orangtua jg libur, misalnya pas golden week atau liburan akhir tahun.

Di hoikuen makan dan snack, termasuk susu gratis. Anak2 dg alergi makanan tertentu diperhatikan (catatannya harus lengkap), termasuk jika hanya mau makan makanan halal diperbolehkan/tidak akan diberi makanan yg tidak halal.

Pengasuh2 di hoikuen baik-baiiiiikkk banget. Aku suka malu sendiri kalau pas njemput sore hari liat para sensei ikut lari2 main petak umpet sama anak2. Padahal kalau disini, kalau anak2 main sama anak tetangga, ibunya ya duduk2 ngrumpi sama ibu2 yg lain.

Eh, ini baru cerita untuk penitipan anak usia pra-SD ya. Untuk yg anak SD ada lagi ntar ceritanya..., sekedar berbagi pengalaman aja...

Semoga bermanfaat :D :D :D

1 comment:

  1. Mom pernah bawa anak dibawah 1 tahun ya ke jepang? Boleh tahu step2 nya gimana?

    ReplyDelete